Kamis, 24 Februari 2011

Dua Sisi


Media Monkey - taken from here
Jadi inget materi kuliah. Hehehe… Tapi ini bukan tentang teori dampak media kok. Jadi, ga bakalan berat walaupun ngomongin berita rasanya berat buat saya. Kalo ngomongin orang baruuuu enak tapi berat di dosanya. Hahaha…

Sooo… tau lah ya pemberitaan media akhir-akhir ini. Bad news is good news untuk awak media, bukan begitu? Tapi bad news akhir-akhir ini benar-benar membuat saya berniat menutup mata, hati, dan telinga. Mulai dari kerusuhan Cikeusik, Temanggung, PSSI, runtuhnya monarki yang berturut-turut, dsb. Sigh… Rasanya udah cape, butuh angin segar, butuh berita baik, tapi adanya begitu. Nggak bisa ditolak, harus dihadapi. Mau nggak peduli tapi itu kenyataan hidup. Lebih baik hidup di dunia nyata kan daripada dicekokin mimpi-mimpi gombal *halah*

Tapi kata siapa berita-berita itu juga kenyataan? Maksudnya, nyata keadaannya seperti yang diberitakan. Semua hal punya dua sisi. Mana yang disorot media dan mana yang ditutupi, kita nggak tau. Itu pilihan media. Tapi kita punya hak untuk tau dan memilih untuk lebih percaya sisi yang mana.

Misalnya, pemberitaan seputar pergolakan di Libya. Yang saya tau, monarki itu kesannya kejam. Di berita pun terlihat seperti itu. Tapi saya juga tau kalau Amerika suka menyebarluaskan demokrasi. Jujur, saya emang nggak ngikutin beritanya tapi cukuplah kesan 'seram' Khadafi dan berantakannya Libya. Nah, beberapa jam yang lalu pandangan saya tentang Libya sedikit berubah karena nemu artikel ini di kaskus.us. Wajib dibaca, menurut saya, agar persepsi kita semakin kaya dan agak bisa sedikit mengkritisi pemberitaan selama ini. Kurang lebih isinya adalah klarifikasi keadaan selama pergolakan di Libya oleh dua (CMIIW) mahasiswa Indonesia yang kuliah disana. Ternyata, alun-alun Tripoli tidak sehancur yang diberitakan, isi pidato Khadafi ada yang disalah artikan, dan banyak kenyataan lain yang seharusnya kita ketahui.

Itu baru tentang Libya. Entah dengan topik-topik lainnya. Apakah ada sisi lain yang tidak diangkat demi kepentigan pihak-pihak tertentu? Saya bukan bermaksud mengajak su'udzon. Tapi cobalah untuk tidak bereaksi sebegitu hebatnya hanya berdasarkan informasi dari satu atau dua sumber. Banyak yang harus di-compare agar pandangan kita bisa berimbang. Baik-buruk, benar-salah, kiri-kanan, semuanya relatif. Tergantung menurut siapa.

Tapi kalau udah keburu pusing dan bingung untuk melihat kemana, tutup mata, hati, dan telinga sebentar nggak masalah kali ya. Kan begitu buka mata udah fresh lagi tuh. Asal jangan kelamaan nutupnya, nanti pelanggan kabur *dikira warung?!* Halah…. Tuh kan, saya nggak bisa ngomongin berita lama-lama. Cukup sekian, ya. Mau ngomongin orang dulu :P

Rabu, 23 Februari 2011

Adikku… Cupcup muah

Omongan anak kecil itu entah kenapa kadang nyelekit karena terlalu polos atau karena niruin omongan orang tua yang emang bener. Seperti adik saya yang akhir-akhir ini punya pendapat sendiri soal mencari pasangan.

Contoh pertama, waktu kita sekeluarga makan malam di luar. Ceritanya ada keluarga lain yang bawa dua anak kecil yang cantik-cantik. Dua-duanya berambut panjang berkilau dan ngegemesin. Iseng-iseng saya tanya. Niatnya mau godain. Soalnya dia paling demen liat anak kecil cantik.

Saya: De, liat deh cewek-cewek yang itu. Yang baju ijo cantik ya.
Adik saya: Iya, cantik, kak.
Saya: Kamu mau ga? *mau apa coba maksudnya?*
Adik saya: Agamanya apa dulu, kak?
 

Beuuuh… ternyata, kriteria pertama kalo mau cari pasangan menurut adik saya adalah se-iman. Okeh, pinter dah. 

Contoh kedua nih ya. Jadi, entah kapan, saya, ibu saya dan adik-adik saya lagi nonton FTV. Tau lah ya yang main akhir-akhir ini kan si ganteng Rio :D Bertanyalah saya ke adik saya yang sok tua itu:

Saya: De, ganteng ya cowoknya
Adik saya: Yang penting solatnya rajin, kak.

Jleb jleb jleb!!! Makasih loh de, udah ngingetin. Padahal itu omongan ibu saya kalo lagi ngomongin calon suami masa depan. Ternyata disimpen juga di otaknya. Bagus.. bagus..

Nah, yang ketiga baru aja kejadian hari ini. Beberapa menit yang lalu, adik saya nyetel lagu Armada yang ada kata-kata 'maau dibaaawa kemanaaa…' Apa tuh judulnya? Tau lah ya. Terjadilah percakapan antara adik saya dan vokalis Armada.

Armada: Tak usah kau tanya lagi siapa pemilik hati ini…
Adik saya: Yaitu Allah
 

Subhanallah! Anak ciapa cih kamyuuuuuu? Unyu… unyuuuu…

Adik saya bisa ngomong begitu mungkin karena lingkungan sekolahnya yang Islami. Mungkin juga karena teman dekatnya, yaitu ibu saya. Sebegitu polosnya anak kecil sehingga apa yang ada di lingkungannya ditiru dan dipraktekkan ke kesehariannya. Dan sebegitu kuat memorinya, apapun yang dia denger itu disimpan baik-baik di otaknya. Jadi, hati-hati bersikap dan berkata kalau di sekitar Anda banyak anak kecil.

*kok jadi serius gini ya?*